Visi Pancakarsa: Mewujudkan Kabupaten Bogor Termaju, Nyaman, dan Berkeadaban…

DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA
KABUPATEN BOGOR

FORUM PERANGKAT DAERAH 2019, DISBUDPAR KABUPATEN BOGOR

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor Pada tanggal 12 Februari 2019, bertempat di Hotel Green Peak, Cisarua, telah mengadakan Forum Perangkat Daerah(FPD) terkait dengan rancangan Renja SKPD dan ekspos mengenai pariwisata. Forum dihadiri oleh jajaran Dinas di Pemda Bogor, pejabat Kecamatan, perwakilan dari Seniman/Budayawan, serta Komunitas-Komunitas. Acara ini dibuka dengan penampilan tari tradisional dari Sanggar Seni Jamparing Asih, dilanjut dengan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya dan Mars Tegar Beriman.

Kadisbudpar Kabupaten Bogor, Drs. Rahmat Surjana,M.Si, memberikan sambutan pertama. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa di dalam RPJMD 2019-2023, Bupati dan Wakil memiliki program Pancakarsa, untuk mensukseskan program Pancakarsa maka segenap jajaran Dinas dan Kecamatan di Kabupaten Bogor harus siap melaksanakannya dalam masa bakti Bupati Bogor terpilih. Dalam bidang pariwisata, target kunjungan wisata 2017-2018 sebesar 7,5 juta telah bisa dilampaui sebesar 7,6 juta. Target berikut dari Bupati Bogor kini untuk ke depannya adalah 10 juta kunjungan. Diharapkan lama tinggal menjadi 2 hari, dan minimal per-orang membelanjakan uangnya di sektor pariwisata sebesar 1 juta rupiah per hari. Dalam RPJMD 2019-2023, digagas bahwa hasil kegiatan industri pariwisata juga dirasakan oleh masyarakat dan tidak hanya oleh pelaku usaha wisata besar saja. Selain itu dilaporkan bahwa banyak potensi pariwisata di Kabupaten Bogor lahannya dimiliki oleh Perhutani atau Kementrian Perhutanan, diharapkan lahan tersebut bisa dikelola juga oleh BUMD pariwisata, atau BUMDES (masyarakat) sehingga industri pariwisata bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat. Secara status hukum mesti bisa diupayakan kerjasama dengan pihak Perhutani dan Kementrian Perhutanan. Mengadaptasi dari daerah lain, dengan sistim pengelolaan satu pintu tapi manfaatnya bisa terbagi kepada seluruh lapisan masyarakat yang terlibat di dalamnya. Sebagai penutup Kadisbudpar menyatakan bahwasanya Disbudpar akan berusaha dengan segenap daya demi tercapainya program panca karsa khususnya di bidang pariwisata.

Untuk acara FPD Disbudpar ini Bupati Bogor, Ibu Ade Yasin, berkenan untuk hadir dan memberikan sambutannya. Beliau menyampaikan bahwa begitu banyak potensi yang bisa digali di Kabupaten Bogor, akan tetapi harus diperhatikan potensi apa yang bisa dikembangkan dan bermanfaat untuk generasi mendatang. Bupati Bogor lebih memilih untuk mengembangkan potensi yang berkesinambungan dan tidak merusak lahan. Mengenai program Pancakarsa, diterangkan bahwa secara umum Pancakarsa itu adalah 5 keinginan/5 tekad yang terdiri atas: membangun Bogor, mencerdaskan Bogor, menyehatkan Bogor, memajukan Bogor, dan membuat Bogor berkeadaban. Sebagai contoh penerapan dalam urusan kesehatan, Bupati berusaha mempermudah dengan program graha pancakarsa untuk memfasilitasi agar masyarakat miskin tidak lagi dipingpong ke berbagai instansi saat mengurus masalah kesehatan.

Di dalam Bogor maju sektor pariwisata menjadi andalan. Salah satunya melalui penguatan Branding Kabupaten Bogor, yaitu: Bogor The City of Sport and Tourism. Pemilihan bahasa Inggris dimaksudkan agar bisa menarik kalangan internasional untuk datang berwisata ke Kabupaten Bogor. Ada usaha besar untuk mewujudkan Bogor Go International. Tentu ini butuh kerjasama dari berbagai pihak terutama kesadaran masyarakat. Contohnya untuk perlindungan benda-benda sejarah yang bernilai pariwisata. Juga terkait dengan penguatan branding, agar kabupaten Bogor mudah dikenali dan memperkenalkan diri ke pihak luar. Selain itu juga penguatan dari sisi budaya, salah satunya agar kultur berbahasa sunda misalnya bisa terus terawat agar generasi berikut masih bisa menuturkan basa sunda sebagai penunjuk identitas atau akar budaya.

Pada saat menyampaikan data-data mengenai fasilitas pariwisata, disinggung juga mengenai jumlah data yang hanya sedikit disambungkan dengan keterangan bahwa yang terdata adalah pelaku usaha wisata yang sudah bayar pajak dan memenuhi persyaratan usaha. Resiko bagi para pelaku usaha yag belum memenuhi kewajibannya adalah mereka tidak ikut dipromosikan oleh pemerintah daerah. Rendahnya infrastruktur dan gangguan pungli di sekitar objek wisata terutama yang berbasis wisata alam menjadi salah satu yang menjadi kekhawatiran dari bupati Bogor. Hal ini menjadi perhatian seluruh pihak agar bisa bekerjasama meniadakan gangguan-gangguan semacam itu. Pembuatan Badan Usaha Milik Desa untuk mengelola objek wisata di desanya bisa menjadi salah satu solusi.

Para pelaku usaha di Bogor juga harus memperhatikan umkm yang ada di wilayah Bogor. Sebagai contoh kasus, pengusaha hotel akan lebih baik bila membeli keperluan-keperluan hotel seperti sendal, handuk, dan semacamnya langsung bekerjasama dengan umkm yang ada di Bogor dan bukan membeli dari luar daerah seperti jakarta. Selain itu untuk melindungi para petani di Bogor diadakan juga pembuatan program beras Bogor asli, ini berbeda dengan beras asli Bogor yang merupakan varietas, yaitu beras yang dikelola asli di Bogor. Beras ini diberi nama beras Carita Makmur. Salah satu tujuannya adalah perang dengan tengkulak. Beras dari petani langsung dibeli oleh pemerintah daerah dan dipasarkan sebagai beras hasil asli petani Bogor. Beras Carita Makmur.

Dalam acara Forum Perangkat Daerah ini Bupati Bogor mengharapkan agar para pelaku usaha bisa berperan aktif dan bersinergi dengan pemerintah untuk mengembangkan dunia pariwisata di Kabupaten Bogor.

Forum kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab dan diskusi.

319 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *